Ninja Muslim



MENEMUKAN KEDAMAIAN ISLAM DIBALIK JILBAB DAN NIQAB

Selasa, 02 Februari 2010
Sara Bokker, dulunya adalah seorang model, aktris, aktivis dan instruktur fitness. Seperti umumnya gadis remaja Amerika yang tinggal di kota besar, Bokker menikmati kehidupan yang serba gemerlap. Ia pernah tinggal di Florida dan South Beach, Miami, yang dikenal sebagai tempat yang glamour di Amerika. Kehidupan Bokker ketika itu hanya terfokus pada bagaimana ia menjaga penampilannya agar menarik di mata orang banyak.

Setelah bertahun-tahun, Bokker mulai merasakan bahwa ia selama ini sudah menjadi budak mode. Dirinya menjadi "tawanan" penampilannya sendiri. Rasa ingin memuaskan ambisi dan kebahagian diri sendiri sudah mengungkungnya dalam kehidupan yang serba glamour. Bokker pun mulai mengalihkan kegiatannya dari pesta ke pesta dan alkohol ke meditasi, mengikuti aktivitas sosial dan mempelajari berbagai agama.

Sampai terjadilah serangan 11 September 2001, dimana seluruh Amerika bahkan diseluruh dunia mulai menyebut-nyebut Islam, nilai-nilai Islam dan budaya Islam, bahkan dikait-kaitkan dengan deklarasi "Perang Salib" yang dilontarkan pimpinan negara AS. Bokker pun mulai menaruh perhatian pada kata Islam.

"Pada titik itu, saya masih mengasosiasikan Islam dengan perempuan-perempuan yang hidup di tenda-tenda, pemukulan terhadap istri, harem dan dunia teroris. Sebagai seorang feminis dan aktivis, saya menginginkan dunia yang lebih baik bagi seluruh umat manusia," kata Bokker seperti dikutip dari Saudi Gazette.

Suatu hari, secara tak sengaja Bokker menemukan kita suci al-Quran, kitab suci yang selama ini pandang negatif oleh Barat. "Awalnya, saya tertarik dengan tampilan luar al-Quran dan saya mulai tergelitik membacanya untuk mengetahui tentang eksistensi, kehidupan, penciptaan dan hubungan antara Pencipta dan yang diciptakan. Saya menemukan al-Quran sangat menyentuh hati dan jiwa saya yang paling dalam, tanpa saya perlu menginterpretasikan atau menanyakannya pada pastor," sambung Bokker.

Akhirnya, Bokker benar-benar menemukan sebuah kebenaran, ia memeluk Islam dimana ia merasa hidup damai sebagai seorang Muslim yang taat. Setahun kemudian, ia menikah dengan seorang lelaki Muslim. Sejak mengucap dua kalimat syahdat Bokker mulai mengenakan busana Muslim lengkap dengan jilbabnya.

"Saya membeli gaun panjang yang bagus dan kerudung seperti layaknya busana Muslim dan saya berjalan di jalan dan lingkungan yang sama, dimana beberapa hari sebelumnya saya berjalan hanya dengan celana pendek, bikini atau pakaian kerja yang 'elegan'," tutur Bokker.

"Orang-orang yang saya jumpai tetap sama, tapi untuk pertama kalinya, saya benar-benar menjadi seorang perempuan. Saya merasa terlepas dari rantai yang membelenggu dan akhirnya menjadi orang yang bebas," Bokker menceritakan pengalaman pertamanya mengenakan busana seperti yang diajarkan dalam Islam.

Setelah mengenakan jilbab, Bokker mulai ingin tahu tentang Niqab. Ia pun bertanya pada suaminya apakah ia juga selayaknya mengenakan niqab (pakaian muslimah lengkap dengan cadarnya) atau cukup berjilbab saja. Suaminya menjawab, bahwa jilbab adalah kewajiban dalam Islam sedangkan niqab (cadar) bukan kewajiban.

Tapi satu setengah tahun kemudian, Bokker mengatakan pada suaminya bahwa ia ingin mengenakan niqab. "Alasan saya, saya merasa Allah akan lebih senang dan saya merasa lebih damai daripada cuma mengenakan jilbab saja," kata Bokker.

Sang suami mendukung keinginan istrinya mengenakan niqab dan membelikannya gaun panjang longgar berwarna hitam beserta cadarnya. Tak lama setelah ia mengenakan niqab, media massa banyak memberitakan pernyataan dari para politisi, pejabat Vatikan, kelompok aktivis kebebasan dan hak asasi manusia yang mengatakan bahwa niqab adalah penindasan terhadap perempuan, hambatan bagi integrasi sosial dan belakangan seorang pejabat Mesir menyebut jilbab sebagai "pertanda keterbelakangan."

"Saya melihatnya sebagai pernyataan yang sangat munafik. pemerintah dan kelompok-kelompok yang katanya memperjuangkan hak asasi manusia berlomba-lomba membela hak perempuan ketika ada pemerintah yang menerapkan kebijakan cara berbusana, tapi para 'pejuang kebebasan' itu bersikap sebaliknya ketika kaum perempuan kehilangan haknya di kantor atau sektor pendidikan hanya karena mereka ingin melakukan haknya mengenakan jilbab atau cadar," kritik Bokker.

"Sampai hari ini, saya tetap seorang feminis, tapi seorang feminis yang Muslim yang menyerukan pada para Muslimah untuk tetap menunaikan tanggung jawabnya dan memberikan dukungan penuh pada suami-suami mereka agar juga menjadi seorang Muslim yang baik. Membesarkan dan mendidik anak-anak mereka agar menjadi Muslim yang berkualitas sehingga mereka bisa menjadi penerang dan berguna bagi seluruh umat manusia."

"Menyerukan kaum perempuan untuk berbuat kebaikan dan menjauhkan kemunkaran, untuk menyebarkan kebaikan dan menentang kebatilan, untuk memperjuangkan hak berjilbab maupun bercadar serta berbagi pengalaman tentang jilbab dan cadar bagi Muslimah lainnya yang belum pernah mengenakannya," papar Bokker.

Ia mengungkapkan, banyak mengenal muslimah yang mengenakan cadar adalah kaum perempuan Barat yang menjadi mualaf. Beberapa diantaranya, kata Bokker, bahkan belum menikah. Sebagian ditentang oleh keluarga atau lingkungannya karena mengenakan cadar. "Tapi mengenakan cadar adalah pilihan pribadi dan tak seorang pun boleh menyerah atas pilihan pribadinya sendiri," tukas Bokker. (ln/Saudi Gazette/Isc)
ERAMUSLIM.COM

Label: , ,

Uskup Perancis: Kenapa Masjid Penuh dan Gereja Kosong?!

Rabu, 27 Januari 2010

dakwatuna.com - Paris, setelah kurang dari satu bulan adanya warning dari salah seorang pendeta Vatikan, berupa issu apa yang mereka sebut sebagai “Islamisasi Eropa”, di Perancis diadakan kegiatan Pertemuan Akbar Umat Masehi di bawah koordinasi Gereja Katholik, dengan agenda mengkaji Islam, upaya pengenalan Islam, sejarah dan peradabannya. Di tengah-tengah pertanyaan yang sering dilontarkan oleh beberapa uskup, tentang sebab kenapa masjid selalu penuh dengan orang shalat, sedangkan gereja kosong dari orang beribadah di Eropa secara umum.

Gereja Katholik merasa perhatian dengan adanya fenomena tersebar dan meluasnya Islam, berkembangnya pemeluk agama Islam secara pesat di Perancis dan Eropa.

Yang membuat mereka tambah heran adalah, tempat diadakannya kegiatan itu, ternyata melewati sebuah masjid kecil yang penuh dengan jama’ah Jum’atan. Di situ dikumandangkan khutbah dan selanjutnya didirikannya shalat Jum’at.

Perhelatan akbar itu diikuti sekitar 40 uskup dari seluruh penjuru Perancis. Salah seorang uskup berkomentar, bahwa pertanyaan seputar berkembangnya Islam secara pesat sudah ada semenjak beberapa tahun lalu, dan pentanyaan itu adalah, apa rahasia masjid penuh di Perancis, berbeda sama sekali dengan kondisi Gereja yang malah dijauhi?!

SEKULARISASI ADALAH SEBABNYA

Kajian seputar mengapa orang Perancis meninggalkan gereja, telah diungkapkan oleh seorang uskup, Michal. Ia berkata: “Fenomena ini bukanlah hal baru, karena ini berkaitan erat dengan sejarah permusuhan panjang antara negara dan gereja, di mana dalam banyak periode yang panjang, gereja dipinggirkan peranannya dalam kehidupan secara umum.”

Sebagaimana juga masyarakat Perancis lebih cenderung sekular, memisahkan agama dengan kehidupan atau negara.

Para peserta sepakat bahwa masjid-masjid di Perancis mejadi bukti penerimaan luar biasa masyarakat Perancis, dan itu tidak hanya dari kalangan imigran, justeru banyak juga dari orang-orang Perancis asli dari generasi ke dua atau ke tiga, yang mereka sama sekali tidak bisa berbahasa Arab.

Data statistik resmi Pemerintah Perancis menyebutkan bahwa jumlah orang yang kembali dan masuk ke agama Islam di Perancis sampai sekarang ada lima puluh (50) ribu orang, sedangkan total muslim Perancis ada enam (6) juta jiwa.

PELATARAN SEBAGAI BUKTI

Bukti jelas bahwa masjid mendapat penerimaan yang luar biasa dari masyarakat Perancis adalah tidak tertampungnya jama’ah shalat Jum’at di masjid, sehingga harus digelas tikar dan sajadah sampai ke luar area masjid, dan ini kadang menyulitkan samping kiri-kanan lingkungan masjid.

Haji Mamdu Ibrahim, salah seorang pengelola masjid “Al Fath” mengatakan bahwa setiap hari Jum’at kami harus menggelar tikar di luar area masjid dikarenakan jumlah jama’ah shalat Jum’at tidak tertampung lagi. Kondisi ini menyebabkan pemilik tempat sekitar masjid komplain.”

Ketua Persatuan Organisasi-organisasi Islam di Perancis, Ibriz menguatkan bahwa, “Tidak diragukan lagi adanya penerimaan luar biasa terhadap Islam di Benua Eropa, ini menandakan bahwa Islam sangat diterima dan mampu meyakinkan masyarakat, meskipun Islam sendiri diterpa issu penodaan dan pelecehan.”

Jumlah masjid di Perancis sekitar seribu lima ratus (1500) masjid. Data dari organisasi muslim di Perancis menunjukka bahwa jumlah umat Islam di Benua Eropa mendekati tiga puluh delapan (38) juta muslim Eropa, sekitar sepuluh persen (10%) total penduduk Eropa. (io/ut)



BUKTI NYATA CONTOH KEHIDUPAN BI'AH AGAMA YANG HIDUP...DENGAN KONSEP MINHAJUN NUBUWWAH JIHAD DAKWAH KHURUJ FISABILILLAH
sumber: www.Dakwatuna.com

Label: , ,

DELAPAN DESA MASUK ISLAM DI KAMERUN

Rabu, 20 Januari 2010
Seorang da’i asal Kamerun bernama Abdul Karim Abu Yerima yang juga merupakan Direktur pada Kantor majelis Internasional Pemuda Muslim di Kamerun menyatakan bahwa penduduk delapan desa di negeri itu telah masuk Islam Allah dengan kerelaan hati dan tanpa paksaan.

Sebelumnya masih menurut Abdul Karim, penduduk di desa-desa Kamerun merupakan penyembah berhala sampai kemudian aktivitas gereja yang masif dan marak di desanya, termasuk keluarganya mengikuti agama kristen, namun dengan usaha yang keras dan tanpa kenal henti dari para da’i muslim – mereka mampu menyadarkan penduduk-penduduk desa dan banyak di antara mereka akhirnya masuk Islam.
Majelis Pemuda Muslim dunia menyatakan: “Tiga desa di Kamerun yaitu desa “Koadi”,”Tulum”, dan “Bezil”, satu demi satu penduduk desa tersebut masuk Islam, tidak kurang tiga ribu penduduk desa yang menyatakan keIslamannya.! Subhanallah..

Sekelompok pemuda yang telah masuk Islam di desa-desa tersebut ikut membantu penyebaran agama Islam di antara orang-orang yang berada di desa-desa terdekat hingga 5 desa lainnya akhirnya ikut masuk Islam di tangan anak-anak muda ini dan menjadikan jumlah penduduk yang memeluk Islam sekitar 7 ribu orang.
Pada situs majelis pemuda muslim dunia menyatkan: “Hal ini sesuatu yang sangat bagus, dengan bertobatnya penduduk kemudian memilih untuk masuk Islam – Alhamdulillah karena berkat upaya para pendukung di forum pemuda muslim dunia melalui kantor cabang di Kamerun usaha mendakwahkan Islam menjadi berhasil.”

Da’i Kamerun Abdul Karim Abu Yerima berkata: “para dai melakukan usaha dakwah pada dua jalan; pertama: terhadap umat Islam, dengan mengajak mereka untuk belajar tentang agama mereka lebih banyak lagi, dan mematuhi Islam sebagai sistem kehidupan dan yang kedua: dengan non-Muslim – mengajarkan kepada mereka tentang agama Islam dan toleransi dengan harapan mereka akan mendapat hidayah dari Allah untuk kemudian masuk Islam.”
Abdul Kamrin menambahkan: “wilayah di mana mereka berada masyarakatnya telah memeluk Islam, sebelumnya banyak penduduk yang menyembah berhala akhirnya masuk kristen atas usaha para misionaris yang dengan gigih mendakwahkan agama mereka ke setiap rumah penduduk dan ke setiap orang termasuk di wilayah potensial yang berada di luar jangkauan dakwah para da’i muslim.”
Ia juga mengatakan bahwa para aktivis majelis pemuda muslim dunia di Kamerun telah masuk ke tiga desa dan mendakwahkan Islam kepada masyarakat dan kepada kepala suku disana sehingga mereka semua masuk Islam.”( eramuslim.com )
http://rantaupincono.blogspot.com/

Label: , ,

Banyak gereja dijual di Inggris

Kamis, 07 Januari 2010
gambar gereja rusak

London, alislamu.com – Lebih dari 60 gereja di Inggris ditutup setiap tahun. Ratusan uskup mengatakan, ribuan gereja hanya didatangi 10 jamaah atau kurang setiap hari minggunya. Laporan terpisah The Ecclesiological Society, yayasan penjaga gereja, menyebutkan, 4 gereja dari 4.000 ribu gereja hanya dihadiri tak lebih dari 20 jamaah. Laporan ini mengingatkan kemungkinan ditutupnya gereja tersebut karena sedikitnya pengunjung.

Yayasan mengatakan, jumlah warga Inggris yang melakukan ritual keagamaan meningkat dari 1 juta menjadi 3,5 % pada tahun 1970 dan 1,9 % pada tahun 2001. Tapi, dalam kurun waktu itu, 1.626 buah gereja Inggris ditutup, 360 darinya dihancurkan, 341 dipertahankan, dan 925 dirubah bentuknya menjadi tempat yang tidak ada kaitannya dengan keagamaan. Yaitu seperti perpustakaan, tempat olah raga, gedung pertunjukan, studio musik, ruang tarian, restoran, dan tempat tinggal.
Mendapatkan Tempat
Umat Islam Inggris terbilang sangat majemuk. Mereka terdiri dari pendatang dan keturunan mereka serta pribumi. Para pendatang juga berasal dari daerah berbeda seperti Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh, dan Srilanka), Asia Tenggara (Malaysia, Indonesia, Burma, dan Thailand), Timur Tengah (Mesir, Arab Saudi, Palestina, Yaman, Lebanon, Kuwait, Yordania, Iraq, Iran, Turki) dan Afrika (Algeria, Maroko, dan Somalia). Mereka juga menekuni profesi yang beragam seperti dokter, insinyur, akuntan, pegawai toko, pelayan, buruh, pedagang, olahragawan dan sebagainya.

Dalam beberapa waktu terakhir, muslim Inggris telah menggapai banyak perkembangan positif, apalagi dibandingkan 25 tahun lalu. Mereka telah memiliki sekitar 1.000 masjid. Mereka juga sudah berkesempatan untuk mengekspresikan diri setidaknya dalam 135 organisasi Islam semacam Muslim Council of Britain, Hizbut Tahrir, kepengurusan masjid, yayasan, organisasi pemuda atau mahasiswa Muslim. Hak untuk beribadah juga semakin didapatkan, misalnya, persetujuan Ratu Elizabeth II untuk mengizinkan pegawai istana Buckingham ke masjid untuk salat Jumat. Dakwah dan pendidikan Islam juga mulai mencatat perkembangan signifikan.

Satu hal paling menarik adalah fenomena pindah agama (convert) ke dalam Islam puluhan ribu pribumi berkelas, seperti anak mantan pejabat tinggi, selebriti dan keturunan keluarga terhormat. Sebut saja Yusuf Islam (Cat Stevens), Putra dan putri Lord Justice Scott, Matthew Wilkinson (putra Sir William Wilkinson, mantan Ketua the Nature Concervancy Council), Michael Raines (analis komputer terkenal), Joe Ahmed-Dobson (anak Frank Dobson, mantan menteri kesehatan Inggris), Jonathan Birt (anak Lord Birt, mantan direktur utama BBC), Emma Clark (cicit mantan PM Inggris, Herbert Asquith), The Earl of Yarborough (tuan tanah 28.000 hektare di Lincholnshire) dan sebagainya.

Di antara mereka ada yang ke-Islamannya di awali dengan kekaguman pada spiritualitas Islam. Ada juga yang terinspirasi tulisan Charles Le Gai Eaton. Mantan diplomat Inggris ini menerima surat dari banyak orang yang tidak setuju dengan Kristen yang semakin kontemporer dan mencari agama lain yang tidak begitu berkompromi dengan kehidupan modern. Uniknya, para mualaf ini dikenal lebih taat. Mereka juga sangat serius mendalami Islam sehingga tidak sedikit yang kemudian lebih pandai dari gurunya yang muslim keturunan.

Langkah Terbaik
Fenomena untuk saling memahami dan menghormati antara muslim dan nonmuslim atau pemerintah mulai terlihat. Melalui kerjasama dan dukungan Menteri Kemasyarakatan, Ruth Kelly, sekitar 100.000 anak belajar di madrasah sepulang sekolah umum atau akhir pekan. Dengan kurikulum yang secara khusus disusun oleh sekelompok masjid di Bradford bersama pemerintah, diharapkan bisa dihapusnya ekstrimisme dan anggapan bahwa budaya Islam dan Inggris saling bertentangan.

Agar tidak terus dipolitisasi untuk kepentingan negara tertentu, upaya redefinisi terhadap istilah terorisme merupakan sebuah keniscayaan. Dia seharusnya dilihat sebagai masalah kriminal yang bisa dilakukan oleh umat manapun. Kampanye perang terhadap terorisme telah gagal mengatasi akar masalah. Akibatnya, ketidakadilan makin dirasakan umat Islam, kemiskinan meraja lela dan dunia menjadi tidak lebih aman. Kondisi itulah yang merembet pada keharmonisan hubungan umat Islam dengan masyarakat Inggris yang telah terjalin ratusan tahun.

Masyarakat mayoritas yang nonmuslim sebijaknya berhenti menyuburkan “budaya korban” yang membesar-besarkan sikap antimuslim. Kaum muslim Inggris juga mesti terus berusaha meyakinkan bahwa tidak ada pembenaran teologis apa pun dari Islam terhadap tindakan teror. Mereka juga tidak perlu terus dihantui Islamofobia karena realitas ketidaksukaan terhadap Islam tidaklah seseram itu. Senantiasa mengamalkan ajaran sosiologis Islam yang sejuk, terbuka dan toleran merupakan langkah terbaik kaum muslim untuk menjadi tuan di tanah Inggris.(CMM/Zulheldi Hamzah) (alm/ha).

Label: